kadang hati dan kepala tak sealur senada
begitu jauh,
riak kecilpun terkadang mengundang ricuh
dan akupun lebih banyak diam
bermain dengan kepalaku sendiri
Jangan protes!
Saya juga manusia biasa yang masih bisa rapuh suatu ketika
walaupun saya sudah belajar banyak tentang teori ini
Dan kamu diam,
lalu mengulang kata-kata yang sama
berkali-kali
seolah-olah berusaha mencoba membuat saya mengerti
Mimpi buruk yang datang
tiba-tiba bukan salahmu
Aku perlu tidur
kamu juga
Aku perlu berlari
kamu pun juga
Menakutkan?
Apa yang terjadi semalam?
kalimat apa itu?
Seperti sengatan listrik kecil bagiku
yang memompa lampu seluruh kota meledak
Pecah.
Padam.
Lalu diam mencekam.
Perang demi secuil kewarasan.
Aku lelah,
dalam lelah aku berserah.
Dan aku memimpikan tentang kita
Mimpi indah pertama tahun ini,
Mimpi terpanjang.
Dalam tidur aku terbangun,
menatap wajah yang sama,
wajahmmu,
tersenyum,
bahagia,
mimpi yang untuk sekian lama
terasa selalu begitu nyata.
Sadarku siang ini,
aku mengerti satu hal
Selayaknya manusia biasa
dengan hati dan kepala yang kadang
tak sealur nada ciptaan,
dalam penolakanku untuk direngkuh,
dan diam bisu tak menjawab pertanyaanmu..
Sesungguhnya tersembunyi rasaku..
Aku rindu
Nb:
Waktu yang kita miliki saya tidak tahu masih banyak atau tidak
Kesempatan yang kita punya, saya tidak tahu masih tersedia sebanyak apa
ingat, sengatan semalam
seharusnya sudah menyadarkanku bahwa ini mungkin hanya sesaat baginya
dan dia pun sudah merencanakan kuda-kuda kepergiannya
No comments:
Post a Comment